Proses Cerai Dalam Islam: Prosedur Talak dan Gugatan Cerai

Pernikahan merupakan sebuah ikatan suci antara seorang laki – laki dan perempuan. Rencana kehidupan bersama yang diikat oleh ikrar kebersamaan sampai akhir hayat. Ini adalah arti pernikahan yang diuraikan oleh setiap ajaran agama. Tetapi membina sebuah rumah tangga setelah adanya ikrar pernikahan kadang diwarnai dengan berbagai tantangan. Tidak sedikit tantangan rumah tangga yang kemudian berlanjut ke tahap retaknya ikatan pasangan tersebut. Akhirnya banyak pasangan yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan atau bercerai.

Prosedur bercerai kadang tidak tepat atau justru bertentangan dengan aturan yang berlaku saat ini. Untuk itu, berikut ini akan dijelaskan bagaimana proses cerai dalam Islam yang juga diatur menurut aturan undang – undang. Hukum Islam memiliki perbedaan bentuk perceraian yang inisiatifnya dilakukan oleh suami atau istri. Inisiatif perceraian yang dilakukan oleh suami disebut cerai talak. Berdasarkan hukum Islam, cerai talak merupakan putusnya hubungan perkawinan karena dijatuhkannya talak oleh suami. Jika talak dijatuhkan dihadapan istri disertai 2 orang saksi, maka menjadi sah

Tetapi UU No. 7 Tahun 1989 mengenai Peradilan Agama memberi batas penggunaan talak supaya tidak ada kesewenang – wenangan suami. Berdasarkan pasal 65 UU No. 7 Tahun 1989 mengenai Peradilan Agama, semua proses perceraian hanya bisa dilakukan di depan sidang Pengadilan setelah majelis hakim tidak dapat mendamaikan kedua belah pihak

Mengajukan Talak oleh Suami

Poses cerai dalam Islam yang dilakukan oleh suami untuk menceraikan istri adalah dengan mengajukan permohonan cerai talak pada pengadilan agar mengadakan sidang untuk menyaksikan ikrar talak. Lantas pengadilan mana yang berwenang untuk mengadakan sidah permohonan cerai talak? Pengadilan yang memiliki kewenangan tersebut adalah pengadilan yang daerah hukumnya berada di wilayah tempat tinggal istri

Jika istri tinggal di luar negeri, maka permohonan diajukan ke pengadilan yang daerah hukumnya meliputi wilayah tempat tinggal suami selaku pemohon. Jika suami dan istri sama – sama berada di luar negeri, permohonan dapat diajukan ke Pengadilan tempat berlangsungnya pernikahan mereka atau Pengadilan Agama Jakarta Pusat. Seluruh prosedur tersebut diatur pada pasal 66 UU No. 7 Th 1989 mengenai Peradilan Agama.

Gugatan Cerai Dari Istri

Inisiatif perceraian oleh istri biasa disebut cerai gugat. Pada proses cerai dalam Islam dari pihak istri, istri yang akan menuntut cerai suaminya wajib mengajukan gugatan cerai lebih dulu terhadap suaminya ke Pengadilan Agama yang berwenang. Pengadilan agama yang berwenang adalah pengadilan di daerah kedidaman istri selaku penggugat. Jika penggugat tinggal di luar negeri, maka gugatan perceraian ditujukan ke Pengadilan di tempat tinggal suami. Sementara itu jika keduanya tinggal di luar negeri, maka gugatan diajukan ke Pengadilan yang daerah hukumnya merupakan tempat berlangsungnya pernikahan atau Pengadilan Agama Jakarta Pusat. Prosedur tersebut diatur dalam pasal 73 UU No. 7 Tahun 1989 mengenai Peradilan Agama

Selama proses gugatan perceraian berlangsung atas permohonan penggugat maupun tergugat berdasar pertimbangan kondisi bahaya yang mungkin terjadi, maka Pengadilan mengijinkan pasangan tersebut tidak tinggal di satu rumah. Permohonan lain yang dapat disampaikan ke Pengadilan dalam rangka proses cerai gugat, permohonan istri dapat menentukan nafkah yang akan ditanggung oleh suami, jaminan pendidikan dan pemeliharaan anak, dan hal –hal terkait penjaminan yang merupakan hak suami isteri bersama atau barang yang jadi hak masing – masing baik suami maupun isteri

Itulah proses cerai dalam Islam baik dari pihak suami maupun istri. Pastikan untuk mempertimbangkan secara baik – baik sebelum memutuskan untuk menjatuhkan talak atau gugatan cerai. Jika Anda mengalami kesulitan dalam proses tersebut, kami siap untuk melayani Anda.

Leave a Reply