Cara Menentukan Hak Asuh Anak Dalam Perceraian

Suatu perceraian memang sudah tak jarang lagi terjadi di dalam suatu pernikahan, dewasa ini, suatu perceraian seakan sudah menjadi sebuah tren dan juga dianggap menjadi suatu hal yang wajar di dalam suatu pernikahan, banyak orang yang berpendapat jika suatu pernikahan yang mana sudah tidak cocok dan juga sering cekcok lebih baik cerai. Pada dasarnya cerai sendiri merupakan benang merah dari suatu masalah rumah tangga yang mana menurut mereka sudah tidak dapat diselamatkan. Padahal dulunya semua hubungan keluarga didasari dengan cinta, namun jika sudah ada suatu masalah berujung ke perceraian. Akhir – akhir ini kasus perceraian memang semakin banyak dan hal yang menjadi suatu fokus selanjutnya mengenai hak asuh anak. Dalam artian jika sudah bercerai, bagaimana anak tersebut, dengan siapa anak akan tinggal dan juga bagaimana kesepakatan dari orang tua anak mengenai beberapa hal yang berhubungan dengan masa depan anak, terlebih lagi di dalam masalah finansial. Hal tersebut memang sering kali menjadi suatu perdebatan di antara keduanya, mereka sama – sama ingin untuk mengasuh buah hati, namun hak asuh anak dlm perceraian tersebut tentu saja akan berakhir tergantung dari ketuk palu pengadilan nantinya.

Penyebab Perebutan Hak Asuh Anak

Pada dasarnya adanya perebutan hak asuh anak dlm perceraian tentu saja terdapat suatu penyebab, dan berikut ini adalah beberapa penyebabnya:

  1. Yang pertama karena adanya suatu perceraian karena sekarang ini sudah ada banyak sekali penyebab perceraian yang ada di Indonesia.
  2. Kemudian yang kedua adalah adanya suatu perselingkuhan yang mana dilakukan oleh suami kepada istrinya ataupun sebaliknya.
  3. Lalu yang ketiga adalah tidak mengetahui bagaimana caranya untuk bisa menjaga rumah tangga secara baik sehingga timbulah perceraian dan adanya broken home arena memang hal tersebut merupakan salah satu dampak dari broken home terhadap anak.

Hak Asuh Anak Dalam Undang Undang

Pada dasarnya hak asuh anak dlm perceraian sendiri tergantung dari situasi dan juga kondisi, jika memang anak tersebut masih di bawah 12 tahun, maka hak asuh anak jatuh ke tangan ibunya, itupun jika ibunya mampu untuk merawat anak tersebut dengan baik, jika tidak dapat merawatnya dengan baik, maka bisa jadi hak asuh akan jatuh ke tangan ayahnya. Namun jika memang anak tersebut sudah berusia 12 tahun ke atas, maka anak tersebut memiliki hak untuk menentukan akan tinggal bersama siapa. Hal tersebut juga sudah tercantum di dalam Undang-Undang nomor 1 tahun 1974, lebih tepatnya di dalam pasal 45 ayat 2 yang mana orang tua memiliki kewajiban untuk memelihara dan juga mendidik anaknya dengan sebaik – baiknya sampai anak tersebut menikah ataupun bisa berdiri sendiri, dan kewajiban tersebut berlaku meskipun pernikahan kedua orang tuanya putus atau bercerai. Selain itu juga diatur dalam pasal 98, pasal 41 dan juga pasal 105. Jadi pada intinya adalah meskipun ayah dan ibu dari anak tersebut resmi bercerai, maka pengasuhan akan menjadi tanggung jawab berdua selama anak tersebut belum bisa berdiri sendiri, mulai dari perhatian sampai dengan masalah finansial. Dengan demikian berdasarkan dari beberapa pasal serta ayat tersebut bisa disimpulkan jika hak asuh anak jatuh kepada ibunya jika anak tersebut belum berusia 12 tahun, tetapi bisa saja terjadi hak asuhnya jatuh kepada ayahnya jika memang terdapat beberapa masalah pada ibunya yang berkaitan dengan sikap kepada anaknya. Namun untuk masalah pembiayaan tetap menjadi tanggung jawab dari seorang ayah dan juga sudah disesuaikan dengan kebutuhan anak serta kondisi ekonomi. Jika memang terdapat suatu keraguan ataupun ingin berkonsultasi, maka Anda bisa menggunakan layanan jasa kami di dalam mengurus hak asuh anak. Kami sudah memiliki kredibilitas cukup tinggi dan juga banyak pengalaman dalam menangani hak asuh anak. Selain menangani masalah hak asuh anak, kami juga melayani masalah perceraian, kemudian mediasi perkawinan, harta gono gini dan juga harta hibah, wasiat serta warisan.

Leave a Reply