Bagaimana Prosedur Perceraian Katolik

Perkawinan dalam agama Katolik menurut Kitab Hukum Kanonik merupakan suatu perjanjian antara seorang laki – laki dan perempuan yang telah dibaptis membentuk persekutuan di antara mereka untuk membina rumah tangga sebagai suami istri. Pernikahan itu sendiri juga termasuk dalam sakramen.

Perselisihan dalam hubungan perkawinan adalah hal yang tidak dapat dihindari. Alasannya karena tidak ada manusia yang sempurna. Tidak ada manusia yang mampu memuaskan seluruh kebutuhan pasangannya. Dua orang yang sama-sama tidak sempurna dengan berbagai tuntutan yang banyak tentu sulit mencapai hubungan perkawinan yang sempurna. Jika pernikahan sudah tidak dapat dipertahankan lagi, maka pernikahan pun dapat berujung pada perceraian. Padahal, perceraian Katolik sebenarnya tidak dibenarkan

Perceraian adalah penyebab putusnya hubungan perkawinan antara pasangan suami istri selain kematian atau karena keputusan pengadilan. Biasanya perceraian terjadi karena ada pihak yang menggugat baik dari pihak suami atau wanita disertai dengan berbagai alasan yang masuk akal

Sifat Pernikahan Katolik

Dalam gereja Katolik terdapat dua sifat utama perkawinan yaitu monogamu dan tidak terceraikan. Sifat monogamy menuntut pasangan suami istri untuk selalu setia dengan pasangannya yang telah menjadi pilihan hidup. Sedangkan sifat tidak terceraikan menuntut suami istri agar setia terhadap janji perkawinannya dalam berbagai kondisi hingga maut yang memisahkan

Di gereja Katolik tidak dikenal putusnya hubungan perkawinan atau perceraian. Di gereja Katolik hanya dikenal perpisahan dan pembatalan perkawinan. Perpisahan tersebut dibagi menjadi 2 macam yakni

– Perpisahan dengan ikatan perkawinan yang masih berlangsung

Suami istri memiliki hak dan kewajiban untuk memelihara hidup bersama dalam ikatan perkawinan, kecuali jika terdapat alasan sah yang tidak memuaskan mereka. Suami istri sangat dianjurkan tidak menolak pengampunan bagi pihak yang melakukan zinah serta tidak memutuskan kehidupan perkawinan. Walaupun demikian, jika pasangan belum mengampuni, ia berhak memutuskan hidup perkawinan, kecuali jika ia menyetujui perzinahan tersebut atau dia sendiri juga melakukan perzinahan

– Perpisahan Ikatan Perkawinan Non Sakramen

Perkawinan yang tidak disempurnakan dengan adanya persetubuhan di antara orang sudah dibaptis atau pernikahan tersebut dilakukan antara pihak yang dibabtis dengan seseorang yang tidak dibaptis dapat diputuskan atas alasan yang wajar yaitu atas permintaan dari keduanya atau salah satu dari antara mereka walaupun salah satu pihak tidak menyetujuinya

Berdasarkan uraian tentang perceraian Katolik di atas, sebenarnya dapat ditarik kesimpulan bahwa pemutusan ikatan nikah atau perceraian ditentukan berdasarkan jenis perkawinan dari kedua pihak yang menikah. Bila pernikahan tersebut dilakukan oleh orang yang dibaptis, pernikahan itu merupakan sebuah sakramen

Bila sakramen itu sudah disempurnakan dengan persetubuhan, maka pasangan tersebut tidak dapat diputuskan dan atas berbagai alasan apapun selain kematian. Perpisahan dilakukan dengan harapan munculnya pengampunan dan kerindahan di antara pasangan dan berharap keduanya dapat menyatu kembali sebagai keluarga yang harmonis

Di sisi lain, pembatalan perkawinan di Gereja Katolik dilakukan jika perkawinan tersebut terbukti tidak sah dari dalam diri pasangan tersebut dan hakim hanya sekedar membuat putusan deklaratif yang mengatakan bahwa perkawinan tersebut sejak awal tidak sah karena cacat hukum tertentu. Menurut deklarasi pembatalan ini, pengadilan gereja sebenarnya menegaskan kebenaran substansial tentang awal perkawinan yang sudah sudah berlangsung secara tidak sah, bukan karena akhir perkawinan saat suami istri terjadi perselisihan dan bercerai

Proses pembatalan nikah ini tidak dilakukan hanya untuk sekedar meresmikan status suami istri yang sudah bercerai secara de facto tetapi justru menunjukkan bahwa ketika ikatan nikah tersebut sudah sah, ikatan tersebut wajib dipertahankan. Jadi perpisahan maupun pembatalan pernikahan Katolik bukan sebuah perceraian Katolik

Leave a Reply